Apakah Aku Masih Akan Berteriak, “Baiklah, mari kita bermain-main!”

Standard

Apakah aku masih akan berteriak, “Baiklah, mari kita bermain-main!”.
Ketika aku mulai lelah dengan semua kesenangan yang sementara ini?

Lantas seorang teman berkata, “Jangan pula kau mengejar sesuatu yang sementara, Karena tahukah kau, tak satupun dari kita menjamin keindahan diraup nanti”.
Teman lain pun berkata, “Apa yang kau harap dari kesenangan yang sementara ini? Jangan katakan kau sedang tidak berharap suatu apa pun dari ini semua…”

Entahlah, tak sanggup pula kepala ini mendengar afirmasi dari mulut polos mereka.
Kenetralan yang aku dapat.
Atau suatu keberpihakan atas kaumku?
O, tidak, sayang…
Ku pikir mereka semua PEREMPUAN yang angkat bicara begitu.
Ternyata ada pula lelaki beberapa di antara mereka.

O. Berarti ini setara.
Tidak berat sebelah alias seimbang antara LELAKI dan PEREMPUAN.
Memang seharusnya begitu, bukan?

Hm, kupikir begitu awalnya.
Semua tanpa bias jender.
Tak ada yang dirugikan bahkan diuntungkan.
Sedikit pun tidak.
Saling rugi.
Pun saling untung.
Baik itu mereka, aku dan kau.
Ya, kita.

Tapi aku membaca itu sangat berbeda dengan apa yang kita mainkan.
kau, dengan tegas berkata, berniat untuk bermain-main atas nama hubungan.
Sedang aku, tidak sedikit aku berniat untuk lelah bermain atas nama hati.

Aku, terkadang bosan dengan kekesalan dan kemarahan yang acap aku pendam.
Betapa tidak.
Cukup patuh aku padamu.
Meski mungkin kau tak berpikir begitu.
Aku dengan segenap kasihmu, lupa akan lelaki BUSUK bahkan mungkin TERBUSUK-ku saat ini.
Berkat KAU.
Kedatanganmu yang sama sekali tak kuundang begitu lekat tak memberi celah padanya.
Meski sempat ia datang dalam mimpiku lima hari terakhir ini.

Aku, terkadang benci dengan kebodohan dan keterbukaan yang kerap aku simpan.
Betapa tidak.
Cukup kuat sayang ini aku punya.
tanpa ku bentuk dia sesuai mauku saat ini.
Berkreasi pula ia dalam relung hingga membentuk sesuatu.
Dan aku tak berani menamakannya.
Sangat belum berani.

Berang aku mereka masih di sekelilingmu hingga kini.
Murka aku, kau pun masih bermain-main ria dengan mereka.

Pertanyaanku, dengan siapa kau hendak bermain-main?
Dengan siapa hendak kau berpura-pura?
Dengan siapa hendak kau bersungguh-sungguh?

Sadar diri aku jika sulit aku menggantinya.
Mengganti kedudukan dia dalam dirimu, hidupmu, pun relungmu — itu yang utama.

Sadar diri aku tak begitu berarti dibanding dia.
Siapa aku?
tak banyak yang aku tahu, tak cukup kenal aku padamu.
Tak satupun hakku.

Jadi, inginku..
Sudahilah permainan yang lucu ini.
Terhibur aku sementara itu sudah cukup membuat aku penat.

Karena ternyata..
Inginku untuk menjadikanmu utuh atas nama hati itu tak bisa.
Tidak ada akses yang buat aku wujudkan itu untuk relungku.

Jagalah hatimu untuk dia.
Perempuan yang namanya sudah sangat permanen dan tak kan bisa terhapus.

Tak banyak yang bisa aku perbuat untuk ini semua.
Tak banyak trik yang mampu aku mainkan.
Karena memang aku bukan pemain handal atas nama hati.
Dan tak pernah sedikit pun aku berniat untuk berlama-lama.
Karena tak siap aku melihat batas kekalahan.
Entah itu aku atau kau.
Yang tentu di antara kita berdua.
SATU dan DUA.
Tidak lebih. Bahkan tak berkurang.

Dan sudahlah..
tak ada yang perlu kita sedihkan setelah semua selesai.
Kau, pemain hebat yang mampu bertahan dalam segala kondisi.
Pasti sanggup mengarungi pergulatan yang baru.
Entah dengan yang lain..
Tentu dengan yang lain..
Karena aku sudah undur diri dari perhelatan ini.
Mungkin dengannya, atau dengan dia, atau siapa pun.
Tak ingin aku ambil peduli.
Cukup.

Dan..
Ternyata, di detik ini pula.
Aku menjawab soalanku sendiri tanpa mendapatkan pengaruh dari siapa pun itu.
AKU CUKUP MENERIAKKAN, “AKU LELAH, DAN AKU BERHENTI DI SINI”.

Ca me fait pas bien. Trop mal..

Standard

Rien.
Tous le monde est sais.
Tous le monde ne comprend pas.
Seulement sais.

Lire la condition.
Ma condition.

Ca me fait pas bien.
Trop mal..

Ils parle comme ils me connais bien.
Sans arrete.
Sans pense.

Sans connaitre qui parle, qui dit, qui voit, qui ecoute.
Sans sentir qui fait, qui recevois, qui donne, qui refuse.

Ca me fait pas bien.
Trop mal..

C’est ironie.
C’est banal, quand meme.

Ibu, Kumohon Jangan Menangis..

Standard

Siang kemarin terkejut aku mendengarkan kabar yang kau beritakan. Hampir jatuh tubuh ini karna tulang kaki terasa tak sanggup lagi menopang badanku yang hanya 34kg beratnya..Sungguh perempuan yang lemah, ibu.

Tak ingin menghabiskan waktu dengan sia-sia, berlari ku membasuh diri di kamar mandi yang akhir-akhir ini cukup membuatku kesal.. Cacing, ibu..cacing..hfff aku benci binatang itu. Sumpah.. Tapi semakin kubenci semakin banyak pula jumlahnya.. Benar-benar dendam mereka kepadaku yang pernah ‘memandikan’ mereka dengan serbuk deterjen..hahaha.. Kejam sungguh anakmu ini ya, bu??

Ah, lekas-lah..bersihkan badanmu arista!! Lelaki kesayangan-mu sedang membutuhkanmu saat ini.. Cepat!!

11.23 siang, tak terasa kaki ini telah duduk sendiri di dalam sebuah mobil Trans Jakarta menuju halte matraman untuk transit ke arah halte BKN.. Yup!! Diteruskan lagi ke arah hal te Pasar Obor atau kalian biasa menyebutnya Pasar rebo. Jakarta memang kaya akan pasar-pasarnya pikirku.. Ada si Senin yang biasa temanku dan aku menyebutnya lundi (senin- prancis), ada Pasar Pagi, Pasar minggu yang telah membuatku pusing untuk mencari jalan pulang ketika menjalankan tugas organisasi bersama teman gembul-ku Sapi..hah,,banyak sekali.. Tidak seperti di kota kelahiranku..

Jl. Pendidikan II, Cijantung..
Lagi-lagi aku harus menginjak dan melewati jalan ini. Mengesalkan. Tapi, kali ini aku ikhlas..Benar-benar ikhlas.. Mungkin karena aku menyayanginya.. Memasuki wilayah komplek militer ini membuatku kesal. Kesal sekali..Terlalu banyak prosedur! Terlalu banyak aturan! Mengesalkan! Tapi, hari ini malas aku menjadi anak patuh. Terobos saja palang jalan itu – lewati – dan terus saja melangkah! HAH! Akhirnya..Aku benar-benar melakukannya! Tanpa harus melapor dulu, tanpa memberikan tanda pengenal dulu, dan menunggu kedatangan lelaki itu seperti biasanya.

Ok, santai saja.. anggap saja kau tamu agung. atau penghuni komplek ini. Ah, bukan bukan..aku sama sekali tak tertarik dengan dunia yang dipenjara seperti ini.. Lebih baik aku hidup di kamar 2,5m X 2,75m yang kecil tapi tak banyak aturan memusingkan..

STOP!!
Dimana aku ini..”hah..jangan ngelamun, Arista!!! Nyasar k lu!!!”

12.48 siang.
Tidak. Aku tidak mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut mereka, maksudku pemuda yang mengantarku bertemu lelaki itu. Ah, bodoh sekali aku,jalan se-uprit ini saja tak mengerti harus melewati yang mana.. Entah siapa pemuda itu, yang jelas, terima kasih pada-mu telah mengantarkanku dengan senang hati (^_^).

“Heh, masih mau nangis sampai kapan kau!?”
Sialan! benar-benar kaget aku dibuatnya! laki-laki sial! Hihihi
Benar-benar membuat hati lega telah melihatnya tersenyum di hadapanku..

—————————————————————————————————————————–

“Dek, gimana keadaannya?”
“Hm..OK! Dia baik-baik aja kok, bu..tenang di sini ada adek”.
“Kalian berdua, mafa ya.. Maafin ibu karena ga bisa jaga kalian..”
HAH!!! kali ini aku benar-benar ingin memeluk ibu. ibu yang sedang menangis. kedengarannya sih tersedu-sedu..tapi,
“Ibu ga nangis sayang, ibu bersyukur kalian ga kenapa-kenapa..”
“Kame’ pasti baik-baik aja! jadi, ibu sama bapak harus baik-baik jua’ i..”
hahaha..dialek yang aneh kata teman-temanku. Jawa+melayu+betawi..ancur!!
“Kau! jangan pikir kau sendiri di sini. aku ini adek-mu. aku juga saudara-mu. tak bisakah mempercayaiku seperti yang ibu minta?”

Seminggu perawatan dilalui tanpa keluarga telah membuatnya terlihat menyedihkan.. Tidak seperti kakak-ku. Sama sekali tidak mirip. Mana keusilan-mu a’, mana sombong-mu, mana lugu-mu??
Hff, masih berlagak ingin mengantarku pulang pula!!
Benar-benar anak Hatimah!! Anak yang keras kepala! Kepala batu!!

“Kalau saja hal seperti ini terjadi kembali dan kau tak mengabariku, aku hantam kau sampai mati!!”
“Tenang, ini yang pertama dan terakhir kali, semoga..”
“Harus!! jangan biarkan aku pulang membawa mayitmu ke depan ibu dan bapak! berbohong, mati-lah kau!!

Jangan sampai hal buruk seperti ini kita biarkan terjadi dalam keluarga kita.
Ibu, bapak, aa, dan adek tidak ada yang bisa memisahkan. sekalipun itu kerjaan setumpuk dari kantor bapak, koreksian tugas-tugas siswa ibu di sekolah, waktu jaga aa di kesatuan, atau tugas-tugas kampus adek! OK!!!

Semangat!!! Kita harus jadi keluarga yang berhasil!! Yang kebahagiaan tetap bersama! Dan jauh dari hambatan hidup! Oya, ingat perintah-Nya dan menjauhi larangannya.
SEMANGAT!!!

Dosakah aku, Perempuan LONTE mu..

Standard

Perempuan itu terdiam lagi. Menerawang imajinya saat mata tenggelam dalam air hati. Terbuka tanpa sengaja utuh tanpa jeda. Liar berlari terjang segala jeruji dlm hati. Berkelana…
Ada apa dengan Perempuan? Baikkah dia? Ô! Ternyata ia sekarat tak brhela. Keringat teteskan darah. Karena trnyata pori-pori telah tertusuk belati. Tak mampu serap semua yg ada.
Hai, Perempuan. Bagaimana kau sampai di sini?
Entahlah. Aku tak tahu.
Mengapa tubuhmu kotor nan lusuh?
Aku terlalu byk mandi dan kemudia berlari dlm lorong gelap..
Lalu kenapa baumu busuk bak sampah pabrik, padahal kau mandi, bukan?
Ya.. Aku terlalu byk mandi air mani para lelaki.
Apa kau ini lonte pasar?
Entahlah. Aku tak tahu.
Siapa yg mandi atas deritamu, wahai Perempuan MALANG?
Banyak. Tapi tdk trlalu.
Siapa saja?
Anak saudara Ibuku.
Lalu?
Saudara lepas dr anak saudara Ibuku.
Siapa lagi?
Lelakiku.
Lelakimu, siapa dia?
Lelaki bernas, bijak, sedikit suka berguyon, baik hati..
Betapa baiknya dia!
Nyaris sempurna bagiku.
Kau sayang dia?
Tentu.
Lalu mengapa kau bgtu sedih?
Entahlah. Aku tak tahu.
Jika sayang, ia akan datang pada waktu dan dgn cara yg tepat.
Entahlah. Aku tak tahu. Tapi yg ku tahu. Aku sedih.
Gerangan apa sedihmu, sayangku?
Ia ingin menggantiku. Tak ada lg hak privilegie atas relungnya. Ia berniat, dan aku sirna di matanya.
Dalam sungguh jalanmu. Sampai kau trperosok begini..
Dalam dan panjang. Sulit kulewati. Dan harapku, langit runtuhkan keindahan akhirat krn tak bs lg ku kecap manisnya duniawi.
Ô, Perempuanku!
Perihal apa buat kau seperti ini?
Entahlah. Aku tak tahu. Byk janji yg ia tawan kpdaku. Namun, tak jua ada dr mereka ia wujudkan. Ibuku msh merekam segala ucap manisnya. Aku msh mampu tuliskan semua ikrarnya. Tp dia, entahlah. Aku tak mengerti.
Mengapa kau brpikir dia buruk pdmu?
Aku hanya sampah, kawan. Tak berarti sekalipun ajal dlm genggamku. Apa aku berdosa?
Dosakah aku terlanjur sayang atas dirinya?
Dosakah aku ingin yg Allah tunjukkan lalu berikan kebaikan dan kebahagiaan atas hubungan nistaku? Dosakah aku ingin bertanggungjwb atas lahir dan bathinku? Dosakah aku ingin wujudkan segala resah Para Pengasuhku?
Dosakah aku!?
Lalu, salahkah jika semua keinginan itu harapku dpt ada? Salahkah aku terima hatinya pada awal pertama dulu? Salahkah waktu yg aku telah lewati brsama dgnya slama ini? Salahkah aku memintanya utk tetap merangkai dan dirangkai kisah kami? Salahkah aku tangisi segala gundahku saat dia jauh dan tak peduli? Salahkah aku menjadi lontenya? Salahkah SEMUA itu?! Menggugat aku atas janji sakral yg ia ucapkan! Tapi melengos ia aku tatap! Aku ada, dan jgn kau tiadakan! Karena Tuhan yang Tunggal tiadakan aku. Meski kau bergemul dg wanita lain, duhai lelakiku..
Ô, Perempuanku! Kemalangan apa yg buat kau teng gelam begini..
Allah, tlg dengar puji dan mohonnya.. Aku tak mgk dan trlalu kotor pula utk rebut kuasaMu.

Tanpa Sisa

Standard

Tak sedikit yg ingin ku pertanyakan. Tentu juga tdk rumit.
Terlebih kau tahu betul siapa kau dan aku. Bagaimana kita melangkah.
Dan apa yg kita ikatkan dalam janji.
Penat aku. Hingga akhir pun kau bt aku sesak sekarat.
Kau blg, perjodohanmu sdh ditentukan oleh org yg kau hormati.
Dan, pertanyaanku bkn utk tahu benarkah atau bohongkah hal itu. Tapi, kau terima?
Ya, jawabmu. Aku tak percaya.
Kutanya lg. Kau yakin? Ya, karna karna kau tak mgk menolak.
Seakan lima jarimu menapak di wajah.

O. Semudah itu. Kukatakan bhkan kubeberkan dgn jelas alur jalan kita.
Tapi ucapmu, aku yg sdh ikhlas mengapa kini mengamuk?
Hei! Kau tahu betul alasanku mengamuk!
Kau tinggalkan aku semudah kau mengganti celana dalammu saat usai kau puaskan birahimu atas aku!!
Aku berusaha, tp tak kau lihat baik-baik! Aku diam dan brkata ikhlas karena kau ingin tenang!
Tanpa gangguan! Tanpa penindasan! Tanpa byk hal yg merepotkanmu! Tanpa mengaturmu! Tanpa aku!

Aku ikuti alurmu. Tak mengganggu bahkan mengejar!
Aku menghamba bahkan mengemis kasih!
Dan, tahu betul kau apa yg aku tunggu!
Kau! Ada apa dengan hati dan pikirmu??

Apa betul aku cuma permainan yg sudah tak menarik, lalu kau buang setelah sekian lama kau ambil senang?
Setelah semua aku berikan? Setelah semua kau dapatkan? Betapa kau benar lelaki. Lelaki busuk nan laknat!
Pernah aku bertanya. Apa ada beda antara kau dan dua lelaki yg juga sudah menggauli hidupku?
Kau tak mgk seperti mereka. Kau kan melindungi dan menjagaku. Kau kan hilangkan hitamku dan mewarna dgn cerah! Kau kan bawa aku pada garis riwayatmu. Kau kan temani saat semua teman,kawan,bhkan keluargaku pergi. Kau ucap sungguh kan kau lakoni semua yg kau ucap padaku pada Perempuanku.

Sekarang? Tak byk yg kau ucap. Kau semakin pendiam ku pikir. Atau kau emoh dgnku. Itu mungkin. Pasti.
Kau, hanya ingin menjadi yg lbh baik utk ayahmu. Hanya ingin memberi yg saudaramu tak sanggup beri.
Hanya ingin membahagia mereka! Hanya tak mau lg kecewakan aku! Hanya tak mau lg berikan kesakitan padaku!
Hanya tak mau punyai keturunan yg berfisik rentan!

O! Kau ucap semua semudah kau terima tawaran ayahmu..
Semudah kau layani teman-teman wanitamu di alat komunikasi canggihmu.
O! Mengapa kau harus letakkan terlalu dalam hingga lekat!
Mengapa berani kau ucap semua janji bahkan pada Perempuanku!
Mengapa dulu kau tak permasalahkan semua sakit yg gerogoti tubuhku.
Tapi kau justru nikmati tiap centi dari tiap sisi tubuhku!!

Setelah semua kau renggut..
Setelah semua aku beri..
Kau buang aku..
Dan, kau berlenggang di jalanmu yg pasti membahagiakanmu juga keluargamu.
Tapi tidak hingga akhir bahkan saat kau menghadap-Nya!
Karmamu, nantikanlah. Laknat Tuhan bersiap menuju hari-harimu, sayang.
Semudah kau jilati seluruh tubuhku seutuhnya. Tanpa sisa.

Karena Kita Punya Cerita..

Standard

Apa aku terlihat bodoh?
Lugu dan mudah tertipu??

Dan kalian yg begitu banyak tahu lantas tertawa lantang karena aku.
Yah, aku sadar kalian memang berbeda dengan segala aku.
Segala AKU.

Tapi cukuplah itu kalian simpan saja.
Toh, aku tak butuh sumbar kalian.

Jijik pula aku melihat kebijakan yang naif seperti kalimat yg kalian buang.
Apa itu masih bisa kalian sebut BIJAK?

O. Betapa negeri ini kacau.
Bak kapal yang dalam hitungan detik akan karam.
Tenggelam dalam asa yang sekedar ilusi..

Manusia di Pertiwi ini banyak nian yang utopis..
Tak terkecuali aku.
Kau.
Kalian.. Ya! kalian yg sedari td aku bahas!
Jangan keluarkan seringai anjingmu.
Aku tak butuh.

Aku hanya butuh KEBIJAKANmu saja.
Itu.
Cukup sajalah. Tak perlu tahu apa isi kepalaku.
Dan coba baca semua tentangku.
Karena kita punya rahasia.

Fairytale

Standard

I’ve forgotten how long it has been
since I’ve never again…
listened to you telling your beloved fairytale
I’ve thought for a long time
I start to panic
have I done something wrong?

You said to me with full of tears
Inside the fairytale are all lies
I can’t possibly be your prince
Maybe you can ever understand
You said I love you ever after
The stars in my sky has lightened up

I’m willing to be
that angel you love inside the fairytale
Spread up my hands
become the wings to protect you
You must believe
believe that we can be like that in the fairytale
prosperity and happiness is the ending

You said to me with full of tears
Inside the fairytale are all lies
I can’t possibly be your prince
Maybe you can ever understand
You said I love you ever after
The stars in my sky has lightened up

I’m willing to be
that angel you love inside the fairytale
Spread up my hands
become the wings to protect you
You must believe
believe that we can be like that in the fairytale
prosperity and happiness is the ending

I want to be
that angel you love inside the fairytale
Spread up my hands
become the wings to protect you
You must believe
believe that we can be like that in the fairytale
prosperity and happiness is the ending

I will be
that angel you love inside the fairytale
Spread up my hands
become the wings to protect you
You must believe
believe that we can be like that in the fairytale
prosperity and happiness is the ending

Let’s write our ending together

Les Contes de Fée

Standard

A venir…

Je ne sais plus depuis combien de temps
Je ne t’ai plus entendue
Me dire ton histoire préférée
J’ai longtemps réfléchis
ni ku zhe dui wo shuo
Je commence à paniquer
Ais-je encore commis une erreur
Tu m’as dit en pleurant
Que rien n’était vrai dans les contes de fée
Que je n’étais sûrement pas ton prince
Peut-être que tu ne savais pas
*wo yuan bian chen tong hua li
Depuis que tu m’as dit que tu m’aimais
Les étoiles de mon ciel se sont mises à briller

Je souhaite devenir
L’ange de tes contes de fée
J’écarterais les bras
Qui deviendraient des ailes pour te protéger

Tu dois croire

Croire que nous puissions être comme dans les contes de fée

La joie et le bonheur concluent notre histoire

Tu m’as dit en pleurant

Que rien n’était vrai dans les contes de fée

Que je n’étais sûrement pas ton prince

Peut-être que tu ne savais pas

Depuis que tu m’as dit que tu m’aimais

Les étoiles de mon ciel se sont mises à briller

Je souhaite devenir

L’ange de tes contes de fée

J’écarterais les bras

Qui deviendraient des ailes pour te protéger

Tu dois croire

Croire que nous puissions être comme dans les contes de fée

La joie et le bonheur concluent notre histoire

Je veux devenir

L’ange de tes contes de fée

J’écarterais les bras

Qui deviendraient des ailes pour te protéger

Tu dois croire

Croire que nous puissions être comme dans les contes de fée

La joie et le bonheur concluent notre histoire

Je peux devenir

L’ange de tes contes de fée

J’écarterais les bras

Qui deviendraient des ailes pour te protéger

Tu dois croire

Croire que nous puissions être comme dans les contes de fée

La joie et le bonheur concluent notre histoire

Ecrivons ensemble notre fin.

Flash Back..

Standard

Anjing! itu kata pertama yang terucap dari mulutku.
Astagfirullah itu kata yang terucap dari hatiku.

Mudah nian kau ucap aku mendekatimu.
Mudah sekali kau katakan aku mengikutimu.
Mudah juga kau ucap aku mengejar-kejar kau. LAGI.

DULU??? O, aku kembali mem-flashback semua ingatan.
Kapan dan bagaimana kita bertemu pertama kali.
Kemudian, apa yang kita perbincangkan hingga kita satu.
Dikala itu.

Banyak kisah berlalu.
Lalu tanpa henti.
Tanpa terkendali.
Oleh hati dan pikiran.

Lalu sesuka hati.
Tanpa malu untuk disembunyikan.

Stop!
Itu dulu…

Dua musim sudah aku lalui.
Dua musim sudah kau lalui.

Mendekati saat di mana kita dipertanyakan pada soalan tentang hidup.
Saat di mana kita dipertemukan untuk saling ungkap elegi dalam jiwa.
Saat di mana kita mungkin satu..yang mungkin juga berlalu hingga akhir.
Saat di mana kita bisa saja lepas!! Yang tak mungkin juga berlalu hingga akhir.

Sedikit lagi masa itu datang.
Masa di mana janji yang terikrar menggugat relung kita.
Menggugat dan memaksa untuk diperdulikan.

Entahlah, apa akhir nanti akan menjadi akhir yang sesungguhnya..

Kau begitu ragu untuk melangkah.
Syukurlah hanya kau.

Tapi, jangan artikan itu aku mengejarmu, sayang..
Tidak, aku tak berniat.
Sama sekali.

Kejarlah hatimu sesuai inginmu.
Relungmu sepi itu.
Kejar siapa pun yang kau suka.

Wanita jalang, wanita soleh, wanita lugu, wanita perkasa, wanita setengah baya, wanita cantik, wanita buruk rupa, wanita haram, wanita desa, wanita kota, wanita sumatra, wanita jawa, wanita melayu, wanita tiong hoa, wanita kecil, wanita besar, wanita agresif, wanita pemalu, wanita lucu, wanita galak, wanita rajin, wanita sehat, wanita pemalas, wanita pesakit!!

Pilihlah sesukamu.
Jangan ragu.
Jangan khawatir.
Kau bisa kapanpun menambah daftar koleksimu bak Cassanova.
Bahkan mungkin kau mampu mengalahkannya..

Kau punya segala yang wanita butuhkan.
Kau punya segala yang wanita cari.
Lahir. Bathin.
Tak mungkinlah penolakan kau dapat.
Terlalu tinggi hati mereka jika itu terjadi..

Aku paham sekali maumu, sayang..
Kehendakmu sangat manusiawi.

Tak perlu segan kau lakukan itu.
Tak perlu enggan pula kau mengakuinya..

Mereka menunggumu, sayang.
Pergilah..

Tapi, ku mohonkan pintaku..

Jangan pula kau cipta dalihmu pada dunia kau ragu karena aku masih mengekarmu.
O. Sungguh pintar lidahmu, sayang.

Bukan berarti asam garammu selama berdiplomatis pada publik lantas kau tipu mereka dengan argumen yang muakkan aku.
O. Sungguh licik hatimu, sayang.

Kau yang kejar ahtiku.
Sadar atau tidak.
Aku hanya samapah.
Berharap dipungut tapi injakan yang kudapat!!

Tapi, sudahlah, seperti katamu, rasa dalam hati hanya diri yang tahu.
Ku lakukan itu.

Carilah.
Temukanlah.
Dekatilah.
Kejarlah.
Tangkaplah.
Dekaplah.
Ciumilah.
Cumbuilah.
Tidurilah.
Jagalah.

Lakukan itu semua seperti yang kau mau.
Tak satu pun berhak menghukummu, KECUALI DIA.

Aku, hanya sedikit ingin berkata.
Kau, lelaki seperti apa kau sebenarnya?
Di depanku sikapmu indah.
Di belakangku..
O, cukup hadir dalam bayangan dan hanya aku yang tahu.
Tidak.. Allah sangat tahu gerakmu.

Dia pun mulai tahu, kau tak sekasih dahulu pada-Nya.

Sedihnya kau, sayang.
Begitu limbung jalanmu dan aku menangis.

JANGAN pula kau memaknakan aku sedang tangis buaya..
O..Tidak, lelakiku..
JANGAN pula kau memaknakan aku sedang cari dan mengharap perhatianmu.
O.. Tidak kasihku..

Kau begitu baik untuk aku tipu dalam muslihat murahan itu…
Dan aku begitu buruk untuk melakukan hal biasa wanita-wanitamu lakukan laiknya menggoda hati.

Aku mungkin PEREMPUAN terendah dan terburuk di dunia lelakimu.
Tapi,
Aku bisa jadi PEREMPUAN TERTINGGI dan TERINDAH di mata hatimu.
Sisi terang gelapmu, begitu sederhana untuk kulihat bahkan pada sebelah indera penglihatku.

KINI??? O, aku kembali mem-flashback semua ingatan.
Kapan dan bagaimana kita berpisah terakhir kali.
Kemudian, apa yang kita perbincangkan hingga kita berai.
Dikala itu.

Anjing! itu kata pertama yang terucap dari mulutku.
Astagfirullah itu kata yang terucap dari hatiku.